Momen emak-emak sukses membius penonton kondangan saat menyanyikan lagu rock She's Gone dari band legendaris Steelheart. Foto Instagram/humorserius.Belum lama ini video aksi memukau dua orang emak-emak saat menyanyikan lagu rock di kondangan mampu membuat publik di dunia maya terkesima. Bahkan, meski lagu tersebut memiliki banyak nada tinggi, emak-emak itu berhasil menyanyikannya dengan emak-emak saat menghadari pesta pernikahan itu diunggah di akun Instagram homurserius. Di video itu, dua orang emak-emak memakai pakaian serba hijau sukses membius para tamu lantaran menyanyikan lagu dari band legendaris Steelhear berjudul She's Gone."Baru lihat ibu-ibu nyanyi lagu ini di kondangan," bunyi tulisan di video keterangan video tersebut seolah terheran-heran dengan emak-emak itu. Pasalnya, para tamu kondangan terkhusus emak-emak sangat jarang menyanyikan lagu barat apalagi rock saat menghadari pesta kali ini, dua orang emak-emak itu tampak tampil berbeda. Bukan lagu daerah atau dangdut, emak-emak yang memakai pakaian serba hijau itu malah membuat para tamu terheran-heran lantaran mampu menyanyikan salah satu lagu tersulit di dunia tarik suara yakni She's yang memiliki banyak nada tinggi tersebut ternyata tak membuat emak-emak tersebut kesulitan menyanyikannya. Bahkan, mereka malah berhasil mengeksekusi semua nada tinggi di lagu yang sempat hits pada tahun 2000-an emak-emak sukses membius penonton kondangan saat menyanyikan lagu rock She's Gone dari band legendaris Steelheart. Foto Instagram/humorserius.Sambil melihat lirik lagu, emak-emak yang belum diketahui identitasnya tersebut menyanyikan lagu She's Gone dengan sangat baik. Apalagi, setiap nada tinggi di lagu tersebut tidak membuat suara mereka ayal, sejak diunggah di media sosial, banyak warganet sampai bingung menilai penampilan emak-emak di kondangan tersebut lantaran saking bagusnya menyanyikan lagu She's Gone. Apalagi, mereka diduga hanya penyanyi dadakan yang ingin menghibur para tamu mengherankan lagi, emak-emak itu disebut mampu menstabilkan suara mereka saat menyanyikan lagu itu. Padahal, She's Gone dinilai cukup sulit dinyanyikan dua orang karena memiliki sejumlah nada demikian, hal tidak berlaku bagi emak-emak itu. Mereka tampak dengan santai melumat segala nada tinggi di lagu tersebut hingga membuat para tamu kondangan terpukau. Bahkan, emak-emak itu sampai dijuluki biduan yang tertukar akibat aksi mereka yang mampu membius para jika dilihat seksama, seorang perempuan berbaju merah persis di belakang emak-emak tersebut yang diduga merupakan biduan di kondangan itu terlihat tertunduk. Ia tampak mengutak-atik ponsel saat emak-emak tersebut mampu memukai para tamu saat menyanyikan lagu rock dari itu, video yang dibagikan pada Selasa 22/3/2022 itu sukses mencuri perhatian publik di dunia maya. Bahkan, banyak warganet tak menyangka emak-emak itu mampu menyikat lagu dari band lengedaris Steelheart tersebut dengan sangat baik."Yang baju merah langsung kena mental hahaha," tulis varul_a6."Biduan yang tertukar," sahut diky____yolanda."Besoknya biduannya ganti profesi jadi kameramen hahaha," lanjut dndart_id."Kerenlah dari pada yang suara kemana musik kemana," timpal grazyboybs. fre
PartaiEmak-emak, Mendongenglah untuk Perubahan Dalam arti, mereka tidak saja mengutamakan fakta, tetapi juga menggali sisi-sisi dramatis yang menguras air mata. Lagu-lagunya, bersyair balada, bertema heroisme dan nasionalisme, tapi kadang juga romantisme. Pengucapannya kadang puitis, tapi terasa semakin gelap dan sangat individual Until recently, the term emak was often associated with power, agency, toughness, mobility, freedom, resilience, independence, as well as stubbornness. Seven months out from the presidential election, both pairs of candidates seem to have suddenly discovered the power of Indonesian women. Over the last few months, women’s voices have become increasingly prominent in the campaign. In July, a group of women calling themselves the Militant Indonesian Mothers Barisan Emak-Emak Militan Indonesia protested in front of the Presidential Palace, demanding that President Joko “Jokowi” Widodo take action to reduce the cost of staple foods. In September, they held another rally, at the General Elections Commission KPU, calling for Jokowi to follow the lead of former Jakarta Vice Governor Sandiaga Uno and step down from office given that he had already declared himself a candidate for the 2019 race. These so called emak-emak have been strongly associated with the 2019GantiPresident 2019ChangethePresident campaign and the Prabowo Subianto-Sandiaga Uno ticket. But Jokowi’s supporters have also used the term – in August a group calling itself Jokowi’s Militant Mothers Emak Militan Jokowi reported members of the 2019ChangethePresident movement to police for alleged hate speech. Prabowo and Sandiaga look set to run an economy-focused campaign, and Sandiaga, especially, has shown a readiness to use women’s voices to attract votes. In public appearances and on Twitter, Sandiaga has said his economic plans will be based on the real stories of emak-emak, who he says are concerned about the rising costs that the government has failed to keep under control. Similarly, in the legislature’s 2018 “State of the Nation” address, Speaker of the People’s Consultative Assembly MPR and leader of the National Mandate Party PAN Zulkifli Hasan said he was “delivering a message from emak-emak” when he said that government policies were hurting households. Who are emak-emak? Although the term emak-emak or emak in its singular form has been around for some time, it has only been debated in the media recently. Many women now see the term as having derogatory connotations. Two weeks ago, the Indonesian Women’s Congress KWI denounced the use of the term emak-emak, and declared a preference for Indonesian mothers to be called ibu bangsa mothers of the nation. Reflecting how politicised this debate has now become, Jokowi soon after tweeted in support of ibu bangsa, referring to the number of women in his cabinet and the number of Asian Games gold medals won by Indonesian women. Long before the recent sensation around the term, emak was understood by many Indonesian women especially middle-aged women to imply power, agency, toughness, mobility, freedom, resilience, independence, as well as stubbornness. Photos shared on social media with the caption “the power of emak-emak” often depict women in situations of struggle. A typical image might show an old woman carrying a pile of wood on her head, or a woman driving a motorcycle stacked high with the results of harvest. Some images show women riding motorcycles against traffic or without a helmet. There is a sense of a tough woman doing what it takes to get the job done. When used in this way, emak-emak seems to perfectly encapsulate what many scholars of Indonesia have often argued about Indonesian women – that they have high mobility and relative autonomy and authority, especially when compared to women in many other parts of the world. The term emak is typically used by children in Java, Sumatra and some other islands to refer to their mothers although in Sumatra the pronunciation is usually mamak or mak. It is generally considered an indigenous form of the term mama or mum common in urban areas of Indonesia. Historically, therefore, many people saw the term emak as empowering. It was a reminder of the strength and authority of Indonesian women. It demonstrated how women challenge the rules and expectations that have been placed on them, including, for example, to stay at home and be preoccupied with their husbands’ and children’s needs. But the presidential campaign has seen this notion of independence, freedom and resilience turned on its head. Political parties and their mostly male politicians are now suddenly speaking on behalf of women. When they speak of emak-emak it no longer sounds empowering – it sounds patronising. This new politicisation of the term seems to be crushing the notion of women’s independence that is strongly embedded in it. Winning the hearts of Indonesian women There is a reason that both presidential candidates are targeting women voters. The KPU recently announced that the number of women voters exceeds the number of male voters. And in the recent local leadership elections, women participated at a higher rate than men, with 76 per cent of eligible women voting, compared to 70 per cent of eligible men. But politicians’ attempts to target these women are misguided. They seem to believe that women are motivated to participate in elections solely because of household concerns. Women and girls are also concerned about sexual violence and harassment, child marriage, genital cutting, equality in the workforce and, last but not least, increased pressure to conform to religious doctrines and values that restrict their mobility and freedom of expression. As leading political scholar Ani Sutjipto recently, and correctly, observed, the depiction of emak-emak as being rendered hopeless because of economic stress is a major setback. Women’s identities are understood only through their biological roles as mothers, little thought is given to the many different ways women may wish to express their political interests. Sutjipto also somewhat depressingly observed that despite the significant number of women in the national legislature, as a result of hard-won reforms like quotas, women’s voices and interests are still being captured by men. It is true that the beliefs and ideological orientation of women often have economic determinants. However, patronising and simplistic stereotypes of women as mothers run the risk of not being able to keep up with the transformation of women’s identity in modern Indonesia. This is happening quickly and producing new identities that often seem very different to the old stereotypes. The campaign has a long way to go, and maybe candidates will find a more sophisticated way to appeal to women voters. Looking at things positively, at least politicians know they need to attract the votes of women. But women’s voices are not uniform, their identities are not singular. Politicians underestimate the power of Indonesian women at their peril. ktikagmbar ssungguhnya pnuh arti. nice try. n sprtinya pndaptku sma abt this pict :) sini sini ada emak di sini siapkan handuk menampun tangis. hehe. balada | Kedai Es Krim. 230. points. Delete (1 words) posted by 9 years 40 weeks ago. 79.3103. Tags: Cerita | Cerita Pendek | 100 kata | 100 kata | aria | Thufa. 172. – Masalah panggilan emak-emak yang sering disebut oleh Sandiaga, dipermasalahkan oleh Kongres Wanita Indonesia Kowani. Apakah karena Kowani merasa beda kelas?Istilah The Power of Emak-emak memang tengah sering dipergunakan. Penggunaan istilah ini awalnya terkait dengan bagaimana “power” yang dimiliki emak-emak dapat bekerja dengan cara yang tidak terduga dan sering berujung dengan mengesalkan. Misalnya, untuk mengomentari seorang perempuan yang berkendara seenaknya sendiri, salah satunya dengan sein kiri tapi belok kanan. Mengalahkan raja jalanan yang ini pun akhirnya memberikan kesan negatif. Sangat dekat dengan anggapan bahwa perempuan adalah seorang yang kasar dan seenaknya sendiri. Namun, justru kubu Prabowo-Sandiaga menggunakan istilah tersebut sebagai bahan kampanye. Sandiaga sendiri sering menggunakan istilah itu untuk memanggil perempuan-perempuan yang mendukungnya. Bahkan ia sangat mendukung jika didirikan Partai dijadikan bahan kampanye, istilah the power emak-emak tidak hanya sebatas ramai di meme atau guyonan sosial media saja, namun juga semakin sering muncul dalam pemberitaan nasional. Mungkin karena semakin populer, akhirnya isitilah ini menjadi bahasan dalam General Assembly International Council if Women ke-35 di Yogyakarta, Jumat 14/9 kongres tersebut, Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia Kowani, Giwo Rubianto menolak dengan tegas istilah the power of emak-emak. Menurutnya, ibu di Indonesia telah memiliki panggilan istimewa, yakni Ibu Bangsa. Ia mengungkapkan bahwa perempuan Indonesia yang telah memiliki konsep Ibu Bangsa sejak tahun 1935, sebelum kemerdekaan. Sehingga ia menolak jika kemudian disebut sebagai tersebut juga dihadiri dan dibuka oleh Presiden Jokowi. Giwo mengungkapkan, bahwa ia memperhatikan pernyataan Jokowi ketika peringatan Hari Ibu pada 22 Desember 2017 lalu di Papua perihal peran ibu bangsa. Sesungguhnya peran ibu bangsa bukan sebuah beban melainkan suatu kehormatan. Yakni berupa tugas mempersiapkan generasi muda yang unggul, berdaya saing, inovatif, kreatif, dan memiliki wawasan kebangsaan yang tegas pun ia mengungkapkan, “Kami tidak setuju! Tidak ada The Power of Emak-emak. Yang ada The Power of Ibu Bangsa.”Walaupun pernah memiliki makna yang terkesan negatif, namun Sandiaga pun menyebut the power of emak-emak mengacu pada perempuan yang hebat, perempuan yang mandiri. Serta perempuan yang akan menjadi penentu kesuksesan bangsa bukankah dengan penggunaan istilah tersebut dalam kampanye, akan mengembalikan kesan emak-emak yang identik dengan perilaku menang sendiri tersebut? Terus di manakah letak masalahnya?Apakah hal ini juga ada kaitannya dengan penggolongan panggilan seorang perempuan dewasa dalam kasta ekonomi dan sosial di strata sosial Jawa? Ya, panggilan kepada seorang perempuan dewasa memang memiliki stratanya sendiri. Menurut riset kecil-kecilan saja, panggilan tersebut memiliki strata seperti ini….Biyung–Simbok–Emak–Ibu–MamaSemakin terpandang keluarga tersebut, maka panggilan yang akan dipilih semakin ke kanan. Untuk kali ini saya mengabaikan panggilan-panggilan yang mengacu pada bahasa Arab, Tionghoa, dsb. Karena saya hanya akan fokus pada strata sosial penggunaan panggilan biyung. Panggilan ini sudah sangat jarang digunakan saat ini. Menurut cerita dari nenek saya, panggilan ini lebih sering digunakan pada zamannya dulu, di pelosok kampung yang teramat panggilan simbok. Yang terlintas dari panggilan ini adalah orang desa, miskin dan berpendidikan rendah. Jika ingin ditambah agar lebih dramatis lagi, merupakan perempuan yang pemalu, penakut, sabar dan tabah. Nah, di dalam sinetron kita, panggilan simbok ini akan identik dengan pemeran pembantu rumah panggilan emak. Ia memiliki strata yang lebih tinggi. Biasanya sudah lebih mengenal peradaban. Namun tetap, masih belum dapat dikatakan sebagai seorang perempuan yang cukup terpadang. Lihat saja contoh pemakaian panggilan emak dalam film, “Emak pengin naik haji.” Sepertinya sudah cukup menjelaskan, kan?Keempat, penggunaan panggilan ibu. Staratanya bisa dikatakan lebih maju lagi. Panggilan ini sudah masuk ke dalam panggilan menengah ke atas dan tentu saja sebuah panggilan yang cocok untuk perempuan-perempuan yang untuk panggilan mama atau mami, intinya lebih tinggi lagi lah, ya. Identik dengan perempuan yang tidak hanya berpendidikan namun juga cantik dan kaya kesan yang diciptakan dengan panggilan perempuan dewasa tersebut. Jika kita mengacu pada strata di atas, maka bisa dikatakan bahwa panggilan emak memang memiliki strata di bawah kata ibu. Apakah karena hal inikah sehingga Kowani menolak untuk dipanggil emak-emak?Padahal jika kita mengacu pada KBBI, sebenarnya tidak ada perbedaan makna dari panggilan-panggilan tersebut. Apakah karena perempuan-perempuan Kowani merupakan kaum terpandang, sehingga risih dengan sebutan emak yang terasa ndeso? Oke saya harap tidak. Semoga memang ada alasan diperbarui pada 15 September 2018 oleh Audian Lailiangka2tersebut mengandung arti: sudah 2 tahun yang lalu, raihana lahir. setelah 8 bulan dalam kandungan. kami hanya dapet bonus kurang lebih 2 bulan untuk hanimun. pulangnya, giliran si emak sudah menerima raihana dalam keadaan rapi. udah mandi sore dan makan sore. pulang tinggal maen dan bobo. Balada PJJ 1 tahun yang lalu Rumah Mayaku
BaladaTahu Tempe yang Kian Mengecil Ukurannya di Tanah Air. REPUBLIKA.CO.ID, oleh S Bowo Pribadi, Muhammad Fauzi Ridwan, Idealisa Masyrafina, Nawir Arsyad Akbar, Dessy Suciati Saputri, Dedy
Selamat datang di web digital berbagi ilmu pengetahuan. Kali ini PakDosen akan membahas tentang Balada? Mungkin anda pernah mendengar kata Balada? Disini PakDosen membahas secara rinci tentang pengertian, ciri dan contoh balada lengkap. Simak Penjelasan berikut secara seksama, jangan sampai ketinggalan. Balada ialah salah satu jenis puisi baru yang menyimpan mengenai sebuah cerita spesifik. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI, Puisi Balada ialah puisi simpel yang meriwayatkan cerita rakyat yang menyedihkan adakala bersifat diskusi. Pengertian lain dari balada merupakan puisi yang riwayatkan mengenai hidup dan kesibukan manusia, melewati akal dan opini yang berteraskan kultur universal dan tidak tergolong dengan ruang dan waktu spesifik. Ciri Ciri Balada Berikut ini terdapat beberapa ciri ciri dari balada, yakni sebagai berikut Mengandung mengenai sebuah cerita spesifik. Terdiri atas 3 sajak yang tiap-tiap dengan 8 sajak. Berima a-b-a-b-b-c-c-b, kemudian polanya berganti berupa a-b-a-b-b-c-b-c. Sajak terakhir yang berada pada sajak pertama digunakan sebagai refren dalam sajak-sajak berikutnya. Contoh Balada Lengkap Berikut ini terdapat beberapa contoh puisi balada, yakni sebagai berikut 1. Kemana Arahku Kebahagianku… Hingga kini tak pernah ada hilan ditelan salju Hidup tak pernah mengerti Angin … Dengar rintihanku Bulan … Kurindu akan cahayamu Mengapa … Hanya cerita duka yang sertia menemaniku Ingin kurasakan kasih sayang Tapi, pada siapa kumeminta Ingin rasanya hidupku diperhatikan Tapi, siapa yang sudi …! Tuhan, Kaulah…! Satu satunya yang tahu dan mengerti Tentang semua deritaku 2. Desaku Indah nian desaku Kulihat sawah membentang dan gunung menjulang Warna hijau daun padi bagai permata alam Ku coba telusuri jalan Tuk nikmati keindahan wajahmu Ada tanya dalam hati Akankah wajahmu tetap berseri? Polusi, erosi mulai beraksi Mengusik keindahan anugerah illahi yang takkan mungkin terganti Mentari mulai tenggelam dan … akupun tetap disini Menikmati alam yang ada Anugerah dari maha kuasa Oh … Alam desaku, lestarilah …! 3. Bayang Masa Depan Karya Nurul Afdal Haris Serpihan sebuan masa depan Ilahi sang pencipta Rasa yang terlarut dalam kesenjaan Ambisi tetap bertahan Hamparan gurun kehidupan Lahir dalam raga api Atas anugerah sang kuasa Dari kebeningan embun pagi Fantasi kehidupan menyelubungi raga Alangkah kehidupan sang mentari Lantunan sebuah kehidupan Untuk sebuah mawar Rintisan setiap angin logika Uraian mimpi dalam kelabu malam Naungan harapan sebuah masa depan 4. Ibu yang dibunuh Ibu musang di lindung pohon bau tanah meliang Bayinya dua ditinggal mati lakinya. Bualan sabit terkait malam memberita datangnya Waktu makan bayi-bayinya mungil sayang. Matanya berkata pamitan, bertolaklah ia Dirasukinya dusun-dusun, semak-semak, taruhan harian atas nyawa. Burung kolik menyanyikan isu panas dendam warga desa Menggetari ujung bulu-bulunya tapi dikibaskannya juga nyanyi kolik hingga mati tiba-tiba Oleh lengking pekik yang lebih menggigitkan pucuk-pucuk daun Tertangkap musang betina dibunuh esok harinya. Tiada pulang ia yang mesti rampas rejeki hariannya Ibu yang baik, matinya baik, pada bangkainya gugur pula dedaun tua. Tiada tahu akan meraplah kolik meratap juga Dan bayi-bayinya bertanya akan bunda pada angin tenggara Lalu satu dikala di pohon bau tanah meliangMatilah belum dewasa musang, mati dua-duanya. Dan jalannya semua peristiwa Tanpa kontribusi satu dosa, tanpa. 5. Orang-orang Tercinta Kita bergantian menghirup asam Batuk dan lemas terceruk Marah dan terbaret-baret Cinta menciptakan kita bertahan dengan secuil redup harapanKita berjalan terseok-seok Mengira lelah akan hilang di ujung terowongan yang terang Namun cinta tidak membawa kita memahami satu sama lainKadang kita merasa beruntung Namun harusnya kita merenung Akankah kita hingga di altar Dengan berlari terpatah-patah Mengapa cinta tak mengajari kita Untuk berhenti berpura-pura?Kita meleleh dan tergerus Serut-serut sinar matahari Sementara kita sudah lupa rasanya mengalir bersama kehidupan Melupakan hal-hal kecil yang dulu termaafkanMengapa kita saling menyembunyikan Mengapa murka dengan keadaan? Mengapa lari dikala sesuatu membengkak jikalau dibiarkan? Kita percaya pada cinta Yang borok dan tak sederhana Kita tertangkap jatuh terperangkap Dalam balada orang-orang tercinta 6. Pembungkus Tempe Fermentasi asa Mengharap sempurna Bentuk utuh nan konyol Rasa, karsa tempePembungkus yang berjasa Penuh kisah bertulis sedih lara Dibuang tanpa dibacaPembungkus tempe Bukan plastik tapi kertas lama tak terpakai Masihkah ada yang membelai sebelum membuangnya? 7. Minggu Kelabu Minggu pagi kelabu Kuberjalan tiada tentu Angin sejuk menerpa rambutku Baawa saya ketepi jalan itu Bus berhenti tepat didepanku Ku melangkah naik, kemudian duduk dibangkuKubuka jendela kaca Pandanganku lempar keluar sana Mataku terbelalak Saat melihat balihonyaYa, itu dia Dia yang membuatku menyerupai ini Dia yang menghancuurkan hidupku Dia yang porak-porandakan keluargaku Karena beliau kami miskin Karenadia kami melaratKu gapai wajahnya Kucakar beliau dengan kuku-kukuku Hahahahaha Aku ketawa penuh kepuasan 8. Terbunuhnya Atmo Karpo Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut bumi Bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya di pucuk-pucuk para Mengepit kuat-kuat lutut menunggang perampok yang diburu Surai bacin keringat basah, jenawi pun telanjangSegenap warga desa mengepung hutan itu Dalam satu pusaran pulang balik Atmo Karpo Mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang Berpancaran bunga api, anak panah di pundak kiriSatu demi satu yang maju terhadap darahnya Penunggang baja dan kuda mengangkat kaki barang pasar, hai orang-orang bebal! Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa. Majulah Joko Pandan! Di mana ia? Majulah ia kerna padanya seorang kukandung panah empat arah dan musuh tiga silang Atmo Karpo tegak, luka tujuh liang. Joko Pandan! Di mana ia! Hanya padanya seorang kukandung dosa. Bedah perutnya tapi masih setan ia Menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala Joko Pandan! Di manakah ia! Hanya padanya seorang kukandung dosa. Berberita ringkik kuda muncullah Joko Pandan Segala menyibak bagi derapnya kuda hitam Ridla dada bagi derunya dendam yang tiba. Pada langkah pertama keduanya sama baja. Pada langkah ketiga rubuhlah Atmo Karpo Panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak angsoka. Malam bagai kedok hutan bopeng oleh luka Pesta bulan, sorak sorai, anggur darah. Joko Pandan menegak, menjilat darah di pedang Ia telah membunuh bapaknya. Demikian Penjelasan Materi Tentang Balada Adalah Pengertian, Ciri dan Contoh Balada Lengkap Semoga Materinya Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi.
Balada“Ke lugu an” Ibukota February 26, 2014. Banyak hal yang emak pelajari ketika memulai sebuah perjalanan. Baik sendiri, bersama sahabat, bersama si kecil maupun bersama keluarga besar. Mulai dari yang super konyol sampai emosi di ubun ubun. Ekspresi Ngakakkk gulung gulung ditambah pinknya wajah emak gegara ‘malu’ oleh “keluguan